HIV AIDS & Kekerasan terhadap Perempuan: Kenali & Tangani!

Hari AIDS sedunia (1 Desember) tahun ini bertepatan dengan maraknya berita mengenai kasus seniman SS yang menghamili RW, seorang mahasiswi Universitas Indonesia (UI). Sebelum kasus ini berkembang, pernyataan sikap yang mendukung SS telah dilayangkan oleh istri dan anaknya melalui media sosial. Di pihak

stop violenceagainst women

stop violence against women

lain, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI mengeluarkan kronologi peristiwa seksual tersebut. “Itu adalah perlakuan tidak pantas dan patut diduga sebagai perbuatan pidana asusila serta sikap tidak bertanggung jawab yang dilakukan oleh Sitok karena melukai moral, hak perempuan, masyarakat seni budaya, dan integritas pelaku sebagai seorang ‘seniman’, yang sejatinya menjadi teladan dan paham akan budaya Indonesia,” kata ketua BEM FIB di kampus FIB UI, Depok, dalam siaran pers, Minggu (1/12/2013).

“Penyalahgunaan kuasa untuk memperoleh layanan seksual adalah bentuk eksploitasi seksual, berbeda dari pelecehan seksual. Eksploitasi seksual
dan pelecehan seksual adalah 2 dari 15 jenis kekerasan seksual yang dialami perempuan Indonesia. Pemaafan dari istri dan keluarga, maupun janji SS untuk bertanggung jawab secara sosial tidak mengurangi pertanggungjawaban hukum atas tindak kejahatan yang dilakukan SS,” jelas Arimbi Heroepoetri, komisioner Komnas Perempuan.

Hal ini membuktikan, lagi-lagi perempuan dan anak selalu dirugikan dalam relasi-relasi seperti ini, baik yang mengandung unsur pemaksaan seperti perkosaan maupun yang berdasarkan atas suka sama suka. Istri dan anak SS yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba harus menanggung stigma sosial dan masalah psikologi akibat dari perbuatan SS. Sudah jelas, pihak yang paling dirugikan adalah RW yang sebelumnya adalah pemuja SS, yang seorang seniman. Karena kepolosan RW, janji manis SS, dan kemungkinan besar terjadi pemaksaan, terjadilah kehamilan yang tidak diinginkan. Korban pun ketakutan, tertekan dan kesehatan fisiknya melemah karena mengetahui dirinya hamil sementara SS menolak untuk bertanggungjawab. Penderitaan ini dipendamnya selama 7 bulan masa kehamilannya, sebelum akhirnya dia berani melaporkan kejadian ini ke polisi atas dukungan teman dan orang-orang terdekatnya.
Agar kasus serupa SS vs RW di atas tidak berulangkali terjadi dan dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia, Kemenkes mengadakan program ‘Pekan Kondom Nasional’ untuk mencegah penyebaran HIV AIDS, walaupun banyak mendapat tentangan, terutama dari masyarakat Indonesia sendiri yang kurang memahami manfaat dari kondom. Oleh karena itu, memang harus dan bahkan perlu didesak agar diadakan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual untuk semua kalangan.
Yuk, kenali dan tangani HIV AIDS dan kekerasan terhadap perempuan. Jauhi HIV AIDS dan beri hukuman seberat-beratnya bagi pelaku kekerasan, tapi jangan jauhi korbannya. Selamat hari AIDS sedunia.

 






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *