Mendengar Suara Lesbian Indonesia

Perbincangan seks dan seksualitas perempuan masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat Indonesia, apalagi perbincangan mengenai relasi seksual sesama perempuan. Hal tersebut menyebabkan kurangnya informasi mengenai lesbianisme pada masyarakat, lalu muncul informasi-informasi  simpang siur  tentang lesbianisme sehingga melahirkan stigma dan diskriminasi kepada kelompok yg dianggap non normative seksual seperti lesbian. Latar belakang tersebut memotivasi Ardhanary institute (sebuah organisasi lesbian, biseksual dan transgender Indonesia selaku penerbit atas bantuan Hivos—sebuah organisasi pembangunan internasional yang berlandaskan nilai kemanusiaan) untuk mengundang beberapa aktivis perempuan dan pluralis menulis 13 artikel mengenai lesbianisme dalam berbagai perspektif. Ketigabelas artikel tersebut akan dimuat di dalam sebuah buku berjudul Mendengar Suara Lesbian Indonesia, yang bertujuan menawarkan wacana berimbang sehingga lesbianisme tidak perlu ditakuti, ditabukan, dan dipandang menyimpang karena lesbianisme adalah bagian dari keragaman seksualitas yang faktual di tengah masyarakat Indonesia. Para penulis yang diundang adalah: Soen Tjen Marching, Evelyn Blackwood, Mariana Amiruddin, Mohammad Guntur Romli, Chris Poerba, Siti Musdah Mulia, Hendri Yulius Wijaya, Saskia E. Wieringa, Sri Agustine, Firliana Purwanti, Heru W. Susanto, Dewi Nova Wahyuni dan Lily Sugianto.

Pada peluncuran buku ‘Mendengar Suara Lesbian Indonesia,’ tanggal 25 Oktober 2013 di Galeri Cikini, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sri msliAgustine dari Ardhanary Institute mengatakan, “Gerakan lesbian Indonesia yang awalnya tertutup menjadi sebuah gerakan terbuka ketika media sosial via cyber mulai marak digunakan karena dianggap aman untuk seorang lesbian terbuka dari ancaman-ancaman orang sekitar. Gerakan via media sosial inilah yang pada akhirnya diimplementasikan aktivitasnya melalui dunia nyata seperti seminar, bedah buku, training dan lain-lain yang bertujuan menguatkan komunitas lesbian dan memberikan pendidikan kepada publik mengenai lesbianisme.” Masyarakat berbasis nilai laki-laki mendefinisikan lesbianisme sebagai sebuah perilaku seksual saja. Mariana Amiruddin dari Jurnal Perempuan menjelaskan, “Eksistensi lesbian mencakup para perempuan yang telah mengidentifikasikan dirinya sendiri tertarik secara seksual, spiritual, emosional, atau secara politik terhadap perempuan lain. Bentuknya pun beragam, mulai dari relasi seksual, relasi pertemanan yang akrab, solidaritas sesama perempuan, hingga kasih sayang antara saudara perempuan atau ibu dan anak perempuan.”

Seperti pada kasus Rega (27 tahun) seorang transgender—seseorang yang merasa jenis kelaminnya saat dilahirkan tidak sesuai dengan peran gender yang dilekatkan pada dirinya oleh masyarakat—yang menghilang menjelang pernikahannya dengan Mumun (17 tahun); Rega dipukuli dan dilaporkan ke polisi atas tuduhan melakukan penipuan dengan berbohong tentang jenis kelaminnya setelah terungkap bahwa ia sesungguhnya berjenis kelamin perempuan. “Hakim tidak memberatkan Rega dengan tuduhan tersebut. Berdasarkan KUHP, Hubungan seks homoseksualitas tidak dipidana, pidana diberikan bila salah satu pasangan berusia di bawah 18 tahun sesuai UU Perlindungan Anak. Dari perspektif HAM, Rega memiliki hak atas integritas tubuh, hak atas pribadi, non-diskriminasi, kesetaraan, rasa aman, kesehatan, pendidikan dan informasi. Ketika ia tidak percaya diri dengan identitas gendernya karena berasal dari keluarga kurang mampu yang akses pendidikan seksual[nya] terbatas, negara yang seharusnya menyediakan pendidikan seks sebenarnya telah mengabaikan kesempatan warga negaranya untuk menikmati hak atas hidup yang berkualitas secara optimal,” ujar Firliana Purwanti dari The Orgasm Project. Pada tanggal 17 Mei 1990, WHO menghapus homoseksualitas dari daftar penyakit dan gangguan jiwa. Di Indonesia, Departemen Kesehatan RI juga telah mencoret homoseksualitas dari kategori gangguan jiwa.

Kemudian, Lily Sugianto dari Ardhanary Institute menawarkan analisis yang menarik tentang permainan virtual yang memungkinkan para pemainnya menggunakan identitas diri dan memilih orientasi seksual yang tidak selalu koheren dengan kesehariannya. Walaupun permainan semacam itu mungkin memiliki dampak negatif akibat kecanduaan terhadapnya, dengan jumlah pemain yang mencapai puluhan juta, permainan tersebut telah memberi kesempatan kepada kaum LGBT untuk bersuara secara virtual dan kepada kaum heteroseksual untuk berempati dan bahkan ‘menjajal’ relasi non-heteroseksual di dunia maya. Dengan demikian, permainan itu memiliki peluang besar untuk menciptakan konstruksi baru yang lebih menghargai keberagaman.

Bagi anda yang ingin mendapatkan bukunya silakan menghubungi ardhanaryinstitute@gmail.com.

 

Selamat membaca dan selamat mendengar suara lesbian Indonesia.






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *