Pembuat Perubahan Sosial

firliana

Mendekati tahun Pemilu 2014, calon legislatif dan berbagai partai politik mengumandangkan berbagai slogan kampanye seperti, “Gerakan Perubahan”, “Gerakan Perubahan dengan Hati Nurani”, dan “Kesinambungan dan Perubahan.” Yang menarik dari slogan berbagai partai politik berbeda ini adalah bahwa mereka semua memiliki satu kesamaan: semua ingin melakukan perubahan.

Hampir semua orang menginginkan perubahan: Ingin mengubah Jakarta menjadi tidak macet dan tidak banjir; ingin mengurangi angka kemiskinan; ingin mengurangi jumlah anak jalanan; ingin meningkatkan perekonomian dan pemerataan manfaat pembangunan; ingin menghapus diskriminasi; dan sebagainya. Duh, tapi sepertinya sulit membuat perubahan kalau harus menang pemilu atau pilkada dulu.

Tapi jangan khawatir, perubahan bukan hanya milik pemimpin besar! Kita semua bisa menjadi pembuat perubahan. Contohnya Romo Suyatmo Hadiatmojo, mendirikan Forum Kerukunan Antar Umat Beragama di Jawa Tengah, Yogyakarta, Palembang, Medan, Lampung, dan Aceh untuk perdamaian. Gerakan yang dilakukan oleh Romo Suyatmo telah mengilhami ratusan forum serupa yang dikelola secara independen.

Ada juga pembuat perubahan lain, seorang dokter muda bernama Gamal Albinsaid dari Universitas Brawijaya. Ia membangun model klinik sederhana dengan basis asuransi berpremi sampah di RW 02, Kecamatan Lowokwaru, Malang, bekerjasama dengan klinik Mawar Husada.  Setiap bulan masyarakat membayar premi asuransi kesehatan dengan menggunakan sampah organik dan anorganik yang dikonversi ke dalam nilai rupiah sebesar Rp5000 per keluarga. Dana yang terkumpul kemudian menjadi tabungan warga yang digunakan untuk biaya berobat di klinik.

Masih banyak lagi pembuat perubahan sosial lain seperti Anies Baswedan dengan gerakan Indonesia Mengajarnya dan Dede Oetomo yang mendirikan organisasi untuk anti diskriminasi terhadap homoseksual. Change.org, sebuah organisasi yang baru saja dibuka di Indonesia, juga menyadari pentingnya kita menjadi pembuat perubahan dari hal-hal kecil di sekililing kita dengan menggunakan platform media sosial.

Beruntung sekali, The Orgasm Project mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara tingkat internasional mengenai perubahan sosial, namanya “Open for Change.” Acara ini diadakan oleh sebuah organisasi internasional, Hivos, yang berkedudukan di Belanda. Dalam konferensi ini, The Orgasm Project berbahasa Inggris akan diperkenalkan pertama kalinya ke publik. The Orgasm Project dinilai sebagai salah satu contoh bagaimana pengalaman individu bisa menjadi pemicu perubahan.

Untuk selengkapnya mengenai The O Project di Open for Change, silakan kunjungi http://openforchange.hivos.org/



« (Previous News)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *